Skip to content

Novel : The Last Shogun

February 11, 2010

Resensi Novel

The Last Shogun : Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu

Oleh : J. Haryadi

Penulis       : Ryotaro Shiba
Kategori    : Novel
ISBN           : 978-979-1924-03-0
Ukuran       : 13.5 X 20.5 Cm
Halaman    : 352 halaman
Cover         : Soft Cover
Penerbit     : Penerbit Kantera
Terbit        : Januari 2010

Ryoto Shiba, penerima anugerah Order of Culture pada tahun 1993 adalah salah satu penulis yang paling dihormati di Jepang. Ia banyak mempelajari sejarah Jepang secara langsung. The Last Shogun merupakan novel karyanya yang diambil dari sejarah Jepang dan termasuk novel paling laris di Jepang. Karya penulis kelahiran tahun 1923 ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Buku ini sangat pantas dibaca oleh penggemar novel bertema epik atau kepahlawanan.

Membaca buku ini akan membawa Anda hanyut ke masa lalu, ke dalam suasana kerajaan dengan berbagai atribut budaya Jepang yang khas, unik dan menarik. Kisah dalam buku ini dapat memberikan wawasan kepada anda mengenai situasi politik Jepang pada masa itu.

The Last Shogun banyak mengupas kejadian sejarah Jepang sekitar tahun 1860-an. Saat itu Jepang tengah dilanda krisis politik dalam negeri yang memicu terjadinya pertumpahan darah antar kelompok penguasa daerah hingga pemberontakan terhadap kaisar. Krisis politik tersebut dipicu adanya dualisme kepemimpinan yaitu antara kelompok yang pro bakufu atau keshogunan di satu sisi dengan kelompok yang pro kekaisaran disisi lainnya. Sementara itu dari luar mendapat tekanan dari bangsa Barat. Di lautan sudah menanti armada perang pimpinan Komodor A.S. Matthew Perry yang mendesak Jepang agar mau membuka pelabuhan lautnya atau menerima gempuran “kapal hitam” Perry yang terkenal dan memiliki persenjataan mutakhir. Ultimatum A.S. ini mendapat dukungan pasukan Inggris dan Rusia yang memiliki kepentingan yang sama, telah membuat posisi Jepang semakin tersudut dan dilematis.

Disaat yang genting tersebut muncul-lah seorang pemuda penuh semangat, cerdas dan progresif. Pemuda itu bernama Tokugawa Yoshinobu, seorang tokoh muda yang namanya begitu terkenal dan disegani di seluruh Jepang. Ia bukan saja pandai bermain pedang tetapi juga seorang pemikir dan orator yang tiada tandingannya. Pemikirannya yang cemerlang terkadang sulit diikuti dan dipahami oleh lawan-lawan politiknya, Ia lebih mengedepankan diplomasi daripada perang yang dapat mengorbankan ribuan jiwa. Kombinasi pemikir  yang berilyan dan pendirian yang kokoh telah menempatkan dirinya menjadi orang yang paling dihormati, disegani dan diharapkan dapat membantu bangsanya bangkit dari keterpurukan. Hampir semua kalangan mengharapkan ia tampil mengambil kendali sebagai pimpinan pemerintahan dan mengambil sikap tegas terhadap kehadiran bangsa Barat. Posisinya yang serba sulit, berada diantara dua kekuatan besar yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan yaitu antara kubu keshogunan dan kubu kekaisaran.

Disini terlihat kepiawaian Ryoto Shiba dalam membangun cerita bersetting sejarah lokal negerinya tersebut. Penulis lulusan Universitas Osaka yang pernah bergabung dalam Tentara Imprealis Jepang semasa Perang Dunia II itu seolah-olah sangat mengenal secara detail kehidupan Tokugawa Yoshinobu, tokoh sentral dalam novel setebal 352 halaman ini. Kehidupan sang tokoh diceritakan dengan baik, mulai masa kelahirannya, masa kanak-kanak dan remaja yang penuh didikan keras, kehidupan dewasanya yang penuh dengan intrik-intrik politik, dendam, pengkhiatan, amarah dan air mata, hingga masa tuanya yang bersahaja.

Sejak kecil bakat istimewa sudah dimiliki oleh Keiki, demikian panggilan Tokugawa Yoshinubo sebelum menjadi shogun. Ia hidup dalam bimbingan orang-orang terbaik dan terpilih. Keiki muda memang sudah diproyeksikan oleh ayahnya yang ambisius untuk menjadi Shogun masa depan. Nariaki sang ayah adalah seorang daimyo Mito, yaitu penguasa daerah salah satu cabang dinasti Tokugawa, sedangkan Ibunya adalah perempuan berdarah biru, keturunan dari pangeran Arisugawa, yaitu putra adopsi kaisar Ninko. Sebelum kawin dengan ayahnya, ibunya dijuluki Putri Tominomiya Yoshiko.
Sebagai keturunan bangsawan, kehidupan Keiki sangat berbeda dengan saudara-saudaranya lainnya. Anak ke tujuh dari 21 bersaudara itu hidup dengan gemblengan yang keras dan jauh dari kehidupan mewah dan enak seperti halnya keluarganya di istana. Sejak lahir ia sudah dipisahkan dengan orangtuanya dan dibesarkan dengan tangan-tangan keras para samurai di propinsi kelahirannya, Edo. Ketika kecil ia sudah terbiasa hidup dengan berbagai aturan yang ketat dan keras serta penuh disiplin tinggi. Hal ini merupakan aturan yang dibuatkan oleh ayahnya sendiri yang menginginkan Keiki kelak menjadi seorang shogun.
Tidur dengan posisi badan lurus, beralaskan jerami dengan bantal yang terbuat dari kayu yang diletakkan diantara dua bilah pedang yang berdiri tegak lurus seperti sepasang tanduk sudah menjadi kebiasaannya, sehingga bila ia salah berbalik ketika tidur bisa mengakibatkan wajah dan kepalanya terluka parah. Ayahnya juga mengajarkannya untuk membaca berbagai buku, yang membuatnya menjadi bosan namun kelak sangat berpengaruh terhadap pemikirannya yang begitu cemerlang sehinga disegani lawan-lawannya. Didikan militer yang keras dan berbagai didikan lainnya telah membentuk kepribadiannya menjadi seorang lelaki yang tangguh, pemberani, penuh integritas sekaligus bijaksana dan beretika.

Novel ini memang tidak menyuguhkan adegan pertempuran demi pertempuran sebagaimana kehidupan keras para samurai Jepang, melainkan lebih banyak menyuguhkan pergolakan politik yang begitu hebat, terutama pada masa pemerintahan kaisar Komei. Tekanan bangsa Barat yang memaksa Jepang membuka isolasinya terhadap dunia luar telah membuat terjadinya friksi ditubuh petinggi negara, terutama antara kelompok bakufu atau keshogunan yang berpikiran maju yang bersedia menjalin kerjasama dengan bangsa Barat dengan kalangan istana Kaisar yang ingin mempertahankan tradisi kuno, mengisolasi diri dari dunia luar dan tidak ingin berhubungan dengan bangsa Barat yang dianggap mereka kaum barbar.

Apakah perjalanan Yoshinobu untuk menduduki jabatan Shogun berjalan dengan mulus ? Mengapa Yoshinobu semula menolak tawaran untuk menjadi Shogun ? Siapakah musuh Yoshinobu sebenarnya ? Bagaimana cara ia mengalahkan musuh-musuh politiknya tersebut ? Berhasilkah misi Yoshinobu  menyatukan dua kekuatan yang saling bermusuhan ? Bagaimanakah sikap Yoshinobu terhadap kedatangan bangsa Barat ? Siapakah wanita yang dicintainya ? Bagaimana kisah hidupnya setelah tidak menjadi shogun ?

Semua jawaban pertanyaan tersebut bisa anda temui dalam novel “The last Shogun : Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu” yang bersampul coklat dengan latar belakang gambar Shogun dan istana kekaisaran Jepang. Saya menyarankan Anda membaca novel ini karena isinya penuh dengan filosofi yang bisa dijadikan pelajaran, disamping itu novel ini memang pantas menghiasi lemari buku anda sebagai bahan bacaan yang bermutu tinggi. Jadi tunggu apalagi …? Jangan lewatkan untuk memiliki karya Ryotaro Shiba yang fenomenal ini ?  segera temukan di toko buku Gramedia dan toko-toko buku kesayangan Anda.

Selamat membaca, semoga bermanfaat !

6 Comments leave one →
  1. February 18, 2010 8:47 pm

    hehehe…oooh ini ya novel yg bagus itu…

    Tks

  2. February 27, 2010 5:29 am

    Kereenn mbah resesnsinya….

    “n_n”
    Imelda

  3. February 28, 2010 1:03 pm

    Terimakasih atas responnya …….

  4. alimats permalink
    April 14, 2010 2:51 pm

    boleh juga….

  5. Shin permalink
    July 20, 2010 5:15 am

    jadi tambah yakin mo beli ni novel… ^^

    tq2…

  6. destroyer permalink
    November 15, 2012 10:50 pm

    kerend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: