Skip to content

Resensi Novel : Wolf Totem

January 14, 2010

Resensi Buku

Wolf Totem

Oleh : J. Haryadi

Judul buku : Wolf Totem

No. ISBN : 9789793714653

Pengarang : Jiang Rong (Lu Jiamin)

Penerbit : Hikmah

Tahun terbit : Desember 2009

Tebal buku : 616 halaman

Jenis Cover : Soft Cover

Kategori : Petualangan

Teks Bahasa : Indonesia

Sebuah novel yang fantastis karya besar seorang penulis Cina, Jiang Rong. Buku ini sudah diterbitkan lebih dari 13 negara di dunia dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Selain itu, buku ini juga telah berhasil terjual lebih dari empat juta copy di negaranya, sungguh sangat luar biasa dan menjadi best seller dimana-mana. Di Cina, buku ini telah menjadi buku kedua yang paling banyak dibaca setelah buku kecil merah Mao. Walau demikian, buku ini mendapat kritik pedas, seperti pendapat kritikus Jerman, Wolfgang Kubin yang menganggap buku tersebut Fasis. The Guardian (London) berpendapat “Jiang Rong sebentar lagi akan menjadi salah satu dari beberapa novelis Cina yang paling dielu-elukan dan kontroversial di dunia”. Sementara itu Alan Cheuse dari San Fransisco Chronicle mengatakan “Kisah petualangan intelektual … Setelah menyelesaikan sekian ratus halaman, kau pasti merasa ingin berdiri dan melolong.”

Jiang Rong, sang penulis mengatakan,”Saya menghabiskan 30 tahun berpikir dan enam tahun menulis Wolf Totem, dan satu-satunya harapan saya adalah untuk menghasilkan cerita yang menarik “. Tentu saja perjuangan Jiang Rong ini tidak sia-sia, terbukti karyanya berhasil menyabet penghargaan sebagai Man Asia Literary Prize 2007.

Novel ini juga merupakan pengalaman pribadi penulisnya selama masa revolusi kebudayaan di Cina (1966-1976) dan diterbitkan pertama kali di Cina pada tahun 2004. Sebagai karya terbaik, novel ini telah menjadi titik balik untuk sejarah, spiritual, dan keprihatinan budaya. Sang penulis, Jiang Rong (nama pena, nama aslinya adalah Lü Jiamin) adalah seorang  mantan profesor ilmu politik dan aktivis demokrasi yang pernah dipenjara di negaranya akibat aktivitas politiknya yang pro Demokrasi.

Kisah novel setebal 616 halaman ini bermula ketika Chen Zhen, seorang mahasiswa Beijing dikirim selama Revolusi Kebudayaan tahun 1960-an untuk hidup sebagai seorang gembala di antara para penggembala dari Olonbulang, sebuah padang rumput yang luas di Mongolia. Ia sengaja menawarkan diri untuk pergi ke mongolia karena sekolahnya ditutup oleh pemerintahnya. Selama sebelas tahun ia bekerja dan hidup ditengah-tengah orang-orang nomaden asli untuk mempelajari budaya nomaden penggembala Mongolia.

Sebagian besar novel ini menceritakan konflik berkepanjangan antara manusia dan serigala.  Jiang Rong menggambarkan hewan serigala ini sebagai hewan yang memiliki kecerdasan tinggi dan ahli berburu yang dapat diandalkan.

Di awal cerita, pembaca dapat menikmati pengetahuan tentang kecerdasanserigala dalam memperoleh buruannya. Misalnya tentang bagaimana cara serigala melakukan penggebrekan terhadap mangsanya, kijang dan kuda. Disana diperlihatkan tindakan kekerasan yang dilakukan serigala terhadap mangsanya. Serigala digambarkan sebagai sosok prajurit yang ahli strategi, bernyali dan berani  serta memiliki semangat yang tinggi. Hewan ini juga digambarkan memiliki semangat kelompok yang tinggi, kompak,  mahir berburu, pandai mengintai, mengepung buruannya, mencegat dan menyerang mereka dari segala arah dan melumpuhkan buruannya.

Banyak orang diluar bangsa mongolia yang takut terhadap srigala, tetapi Chen justru mendekatinya. Chen Zhen begitu terobsesi dengan kehidupan serigala, membaca dan mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan mitologi serigala di Mongolia, dan tidak hanya sampai disana, ia bahkan terjun langsung mempelajari kehidupan hewan liar tersebut dihabitat mereka yang sesungguhnya.

Diperkampungan Mongolia tersebut, Chen bertemu dan bersahabat dengan Bilgee, seorang lelaki tua Mongolia yang menjadi mentornya, orang yang mengajarkan kepadanya tentang serigala, perang dan pertanian. Bilgee juga memberi pemahaman betapa pentingnya menjaga lingkungan dan menghormati serigala. Filsafat mereka menjaga keseimbangan dengan alam adalah landasan dasar agama mereka. Ia banyak belajar dari lelaki tua tersebut tentang keseimbangan ekosistem di padang rumput. Serigala adalah spesies batu kunci di padang rumput. Bangsa Mongol sangat menghormatinya dan mengkultuskanya sebagai hewan yang suci, sementara Suku Han Cina sebaliknya mengangap hewan ini tidak berharga sama sekali, dicerca, diburu dan harus dimusnahkan karena hewan ini adalah predator yang suka memangsa kuda mereka.

Selama di perkampungan Mongolia, Chen mempelajari srigala dan tindaktanduknya. Ia sering mendekati srigala dan mencoba untuk bersahabat dengan hewan cerdas tersebut. Setiap tindak-tanduknya membuat Chen kagum dan takjub. Perlahan namun pasti, Chen mulai jatuh hati dan merasa dekat dengan srigala-srigala terebut. Kemudian Chen mencuri seekor anak serigala dan mengadopsinya sebagai hewan peliharaannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Maksudnya agar ia bisa lebih dekat dan lebih mudah memahami watak serigala tersebut. Namun Chen sadar, akibat keputusannya itu telah menyinggung perasaan sebagian besar penggembala. Justru hal itu telah menyebabkan terjadinya konflik. Para serigala dan penggembala domba Mongol adalah musuh bebuyutan. Akibatnya dia dianggap sebagai orang luar yang tak menghormati adat-istiadat padang rumput.

Beberapa saat kemudian timbul masalah besar dan serius. Kedamaian yang sudah tercipta berpuluh-puluh tahun lamanya itupun mulai terusik dan pecah. Hal ini dipicu oleh keluarnya kebijakan bari dari Pemerintah Mao yang memerintahkan eksekusi masal bagi para serigala demi menciptakan sistem pertanian kolektif bagi warga Cina Han. Mereka dikirim dari kota-kota untuk membawa modernitas ke padang rumput untuk berkampanye memusnahkan serigala. Selama beberapa tahun Chen menyaksikan kehancuran kehidupan bangsa Mongolia, yang terbiasa sebagai bangsa pengembara (nomaden) hancur perlahan-lahan akibat serbuan masyarakat agraris. Mula-mula serigala punah, lalu budaya mongol tergusur dan terakhir lahan menjadi kritis. Hal ini telah menciptakan keseimbangan yang telah dipelihara dengan dedikasi agama selama ribuan menjadi punah. Sebagai hasil dari pemberantasan serigala, tikus menjadi wabah dan menggembalakan domba liar hingga padang rumput berubah menjadi debu. Badai debu Mongol meluncur di atas Beijing, bahkan kadang-kadang menghalangi bulan.

Dari sisi lain, Orang Cina mempunyai alasan tersendiri mengapa mereka ingin membasmi serigala. Hal ini disebabkan serigala sering menyerang dan membunuh kuda mereka, memakan domba mereka dan membuat hidup mereka sengsara.  Bilgee dan Chen Zhen berusaha dan mencoba untuk menjelaskan kepada pendatang, jika serigala mati, maka padang rumput akan dipenuhi oleh marmots dan tikus, akibatnya padang rumput akan berubah menjadi gurun. Namun penjelasan mereka hanya ditanggapi dingin oleh pihak pendatang.

Hampir satu dekade hidupnya Chen Zhen mengembara dari satu daerah ke daerah lainnya (nomaden) di Ujimchin Banner, perbatasan antara Cina dan Mongolia Luar. Selama disana ia merenungkan perbedaan paham yang kompleks dan saling keterkaitan antara bangsa Mongolia di satu sisi dan Suku Han Cina di sisi lainnya. Ia merasa terpesona dengan serigala dan sosok pahlawan terbesar bangsa Mongolia, Genghis Khan (1167-1227) yang pernah menduduki Cina dan mendirikan kerajaan besar di Eurasia.

Chen Zhen mengembangkan berbagai teori berdasarkan pengamatan terhadap serigala, terutama kecerdasan dan kekejaman mereka. Ia berspekulasi bahwa keberhasilan luar biasa Jenghis Khan dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah karena ia belajar banyak kehidupan serigala. Ia menggali praktek-praktek tradisional dari para penggembala secara rinci, dan bagaimana ekosistem padang rumput berjalan secara alami ketika serigala liar menyerang ternak mereka. Chen dan mahasiswa Cina lainnya yang bekerja di Olonbulag datang untuk mencintai kehidupan mereka dengan penuh semangat. Mereka tampak putus asa ketika melihat di pemukiman orang-orang Han Cina di padang-padang rumput yang sengaja membunuh serigala untuk melindungi ternak mereka. Akibatnya kehidupan nomaden menjadi hancur karena lahan menjadi kritis dan berubah menjadi gurun pasir.

Chen Zhen pun merasa gerah dengan kebijakan pemerintanya, ia bingung harus bersikap bagaimana ? Tetapi dia tak bisa tinggal diam. Chen berinisiatif ingin menyelamatkan hidup para srigala mongolia tersebut, tetapi jika ini dia lakukan berarti dia melakukan perlawanan terhadap pemerintahnya sendiri. Keputusan yang berat dan dilematis bagi Chen. Berhasilkah dia menentang bangsanya sendiri dan menyelamatkan hidup para serigala Mongolia ?

Novel Epik “Wolf Totem” ini banyak menjelaskan kepada kita banyak hal, terutama tentang suatu kebudayaan yang hampir punah. Ada hal menarik yang bisa kita pelajari yaitu hubungan antara serigala dan bangsa Mongolia yang begitu erat.  Mengapa hal ini bisa terjadi ? Mungkin hal ini pula yang telah membuat Jenghis Khan begitu sukses dalam penaklukannya.

Saya merekomendasikan anda untuk membaca novel ini, terutama jika anda ingin belajar lebih banyak tentang kehidupan bangsa Mongol dan aspek lain dari Revolusi Kebudayaan di Cina. Disamping itu anda juga bisa belajar tentang keseimbangan alam (ekosistem), perjuangan dan kepahlawanan. Buku ini bisa anda peroleh di berbagai jaringan toko buku terkemuka dikota anda dengan harga Rp. 69.500,-

4 Comments leave one →
  1. February 11, 2010 12:38 am

    Mohon ijin, share di Facebook dan Blog Wolf Totem Indonesia yah, Pak.
    Terima kasih.

    WTI

  2. February 12, 2010 7:51 am

    Silahkan ….!

Trackbacks

  1. Resensi Novel : Hubby La Vita Nova « Resensi66's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: